Selasa, 31 Agustus 2010

R O J A K


Janice Wong adalah seorang peranakan Cina. Ia hidup dan dibesarkan dengan budaya peranakan. Ia fasih berbahasa Inggris, singlish (Singapore English) dan sedikit bahasa Melayu. Sedangkan Setyo Putra Hadiningrat adalah seorang keturunan bangsawan Jawa, yang hidup dan dibesarkan di lingkungan keluarga ningrat yang masih memegang teguh adat istiadat. Mereka adalah sepasang suami istri yang berbeda kewarganegaraan dan berbeda latar belakang kebudayaan.

Sebelumnya semuanya baik-baik saja, sampai akhirnya datang Ibu Setyo yang jatuh bagkrut namun tetap bergaya seorang bangsawan diapartemen kecil Janice. Selalu protes ini itu dan tidak pernah sepaham dengan menantunya.

Gaya ceritanya melompat-lompat dari sudut pandang yang berbeda. Walaupun ngejelimet, tapi ternyata disitu letak sensasi ngebacanya. Ngena banget, ceritanya bisa membuat emosi kita seolah-olah terlibat dalam setiap kejadian. Kadang merasa kok bisa gitu sih? kok dia jadi gini sih? gak adil, dan banyak perasaan lainnya.

unpredictable ending story, Fira Basuki is a good novelis.
Selengkapnya...

Jumat, 27 Agustus 2010

MARMUT MERAH JAMBU


Sebenarnya aku bukan tipe yang suka baca novel buku2 komedi gitu, coz kebanyakan novel komedi yang aku temui kadang terlalu jayus dan terlalu maksa lucunya. Terbukti ketika heboh2nya KambingJantan, ngelirik pun tidak. Ketika difilemkan, lagi-lagi tidak tertarik. Nah, khusus Marmut Merah Jambu ini, alasan belinya aneh, katanya didalamnya banyak menceritakan kisah cintanya raditya dika dari masa SMA sampai kisah cintanya bareng Sherina Munaf. Bahkan ketika buku ini selesai ditulis, ironisnya hubungan mereka malah bubar jalan. Gitu katanya. Unik aja sih, jadi coba beli.

Hehehehee… benar saja, ada 2 chapter yang ngebahas tentang hubungan Raditya dika dengan sherina, yang namanya disamarkan menjadi Shero. Terlepas dari itu, jangan berharap baca buku ini sampe ngakak jungkir balik, cuma bisa mesem-mesem aja. Aneh sih, masak iya ada kehidupan yang sebegitu konyolnya? (buat aku banyak cerita konyol didalamnya). Tentang surat yang ditujukan kepada menteri perdagangan, apa iya bener? Kalau emang iya, bener deh sakit jiwa tu orang. Bukan masalah suratnya, tapi masalah isinya, pakai bahas-bahas Kiki farel & Mama Dahlia, Supermama indosia dan kangen band segala. Lagi-lagi bikin mesem-mesem.

Secara keseluruhan, buku ini bagus sih, cerita konyol yang berusaha disampaikan Raditya Dika tidak ditemukan jayus yang berlebihan dan lucu yang dipaksakan.

Well, mungkin bisa dipertimbangkan untuk baca novel komedi sejenis ini.

Terakhir. Aku baru tahu cerita tentang belalang sembah yang baru kawin, belalang betina akan memakan kepala jantan. kalau gitu, kenapa masih ada belalang yang mau kawin. hahaha.... ikutan sakit jiwa bacanya. untung saja sudah kelar.

Penulis : Raditya Dika
Penerbit : bukune
Tebal : 218 halaman
Harga : Rp. 41.000,-
Selengkapnya...

Rabu, 25 Agustus 2010

After Office Hours


Sudah dibaca…. Dan, ok la buat dibaca sebelum bo2k.


Bercerita tentang single parents bernama Athea yang ditinggal mati suaminya. Punya anak satu dan harus membiayai adiknya yang masih berkuliah. Diterima kerja disebuah perusahaan Menara Propertindo sebagai sekretaris Presiden Direktur (Wow, walaupun hanya berijazah SMA). Bos Athea ini ternyata adalah manta pacarnya ketika SMA yang menyandang predikat playboy.

Ceritanya mengalir dengan biasa saja. Malah judul sama isinya kok kayaknya gak nyatu ya. Konfliknya juga nyaris sempurna biasa saja. Tokoh yang diceritakan juga memiliki karakter yang goyang (udah kayak kapal berlayar aja niy).

Walaupun ending-nya happy, lagi-lagi nyaris sempurna biasa saja. Sudah tertebak ketika saya masih berada dihalaman 239.



Tapi tetap ada pesan moralnya. Pertama, jangan jatuh dilubang yang sama. Kedua, mengikhlaskan orang yg dicintai bahagia walau itu dengan orang lain, bahkan dengan orang yang kita benci sekalipun (Terdengar sangat klise sekali, yah tapi itulah yang saya tangkap).

Tetap semangat buat kolaborasi penulisnya. Novel sebelumnya “Baby Proposal” saya juga udah baca, semoga karya selanjutnya lebih baik.

Penulis : Dahlian & Gielda Lafita
Penerbit : Gagas Media
Tebal : 328 halaman
Harga : Rp. 31.000,-
Selengkapnya...

Senin, 23 Agustus 2010

BURLIAN


Pernah membaca karya-karya Tere-Liye? Buku pertama yang saya baca adalah “Pukat”, lalu semakin tertarik dengan tulisan-tulisan yang lainnya, membuat saya memburu “Burlian” yang tenyata walaupun sebagai adik, tetapi terbit dulu. Tak apalah walau bacanya terbalik.

Katanya SERIAL ANAK-ANAK MAMAK ini akan ada 4 buku, Burlian, Pukat, Eliana, dan Amelia. Sesuai dengan nama anak-anak Mamak yang berjumlah empat orang.

Seperti buku sebelumnya yang saya baca, yang masih bertemakan sosial, saya lagi-lagi disuguhkan dengan cerita yang mengesankan, banyak pesan moral. Saya malah tersindir hebat saat Burlian menagih janji Mamak untuk membelikannya sepeda setelah dia tamat mengaji. Namun karena ada hal yang lebih penting, Mamak menundanya. Ini membuat Burlian marah besar dan menganggap Mamaknya pembohong. Burlian Mogok makan dan tidak mau tidur di dalam rumah. Akhirnya Bapak menemaninya tidur diluar rumah sambil bercerita tentang seorang ibu yang berusaha menyelamatkan anaknya yang saat itu berumur 2 tahun dari serangan lebah. Sang ibu akhirnya digigit lebah hingga punggungnya bengkak demi anaknya yang akhirnya diketahui bahwa itu adalah Mamak yang menolong Burlian ketika dia kecil. Keesokan hari, sepeda itu telah dibeli, bukan karena Mamak telah punya uang, karena panen kopi masih enam bulan lagi. Dikemudian hari, diketahui bahwa Mamak telah mengadaikan mahar sekaligus cincin pernikahannya. Hey, zaman dulu tidak ada kamera, sehingga tak ada kenangan lagi setelah cincin itu ternyata hilang dipegadaian. Mamak menangis.


“Jangan pernah membenci Mamak kau, jangan sekali-sekali. Karena jika kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau, Amelia, Kak Pukat dan Ayuk Eli, maka itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya pada kalian.”

Selain menceritakan Burlian di dalamnya, kita akan mendapat banyak pengetahuan mengenai kearifan lokal penduduk kampung. Bagaimana kebijakan leluhur kampung dengan ‘sungai larangan’ nya dapat melindungi habitat rusa. Dengan kebijakan leluhur kampung para penduduknya hanya mengambil ikan di sungai secukupnya, berburu burung seperlunya,tidak menebas rotan semaunya demi menjaga keseimbangan alam, agar hutan tetap bersahabat.

Buku ini penuh hikmah, memotivasi pembaca untuk bermimpi dan terus menjulangkan cita-cita. Cara Tere-Liye dalam mengambarkan detail dari cerita mampu membawa pembaca masuk dalam perkampungan dibukit barisan. Tertawa, sedih dan amarah. Saya kembali dibuat berdecak. Plok plok plok plokkkkkk…..

Judul Buku : Burlian
Penulis : tere-liye
Penerbit : Republika
Tebal : 343 Halaman
Harga : Rp. 50.000,-
Selengkapnya...

Kamis, 19 Agustus 2010

PUKAT


“Baiklah, mungkin ada gunanya juga kau tidur di luar malam ini. Berfikir. Pikirkan kalimat Bapak ini, kau tahu, kenapa setiap anak harus mendengarkan nasehat, larangan, atau apa saja dari Mamak-nya? Sungguh bukan karena Mamak pernah jadi anak kecil, sedangkan kau belum pernah jadi orang dewasa. Bukan karena ukuran usia atau kedewasaan…. Tetapi jikau kau tahu sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau, Amelia, Burlian dan Ayuk Eli, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian.”


Serial anak-anak Mamak dalam “Pukat”, menceritakan sekelumit petualangan Pukat, saudara-saudaranya, dan teman-teman sebayanya dengan segala keluguan dan kenakalannya, namum memendam nilai-nilai luhur yang sangat amat patut untuk dilestarikan. Kejujuran, kasih sayang dan persahabatan yang dibungkus dengan kenakalan dan keterbatasan anak-anak.

Kisah Pukat memberikan inspirasi banyak hal tentang dunia anak yang dipenuhi naluri belajar sambil bersenang-senang. Pukat di gambarkan sebagai sosok yang pintar dan mempunyai cita-cita menjadi seorang Peneliti. Burlian digambarkan sebagai seorang anak yang hanya sibuk bertanya, bertanya dan bertanya . terlepas dari itu semua, kisah ini penuh kejutan-kejutan hingga di lembaran terakhir. Puas rasanya menyantap buku ini. Terlalu banyak pesan moral yang sangat penting, walau untuk orang seusiaku, karena buku ini diperuntukkan bagi pembaca lintas usia. Salah satunya, cerita ini hadir sebagai sebuah karya sastra yang menampilakan kehidupan para tokoh yang tumbuh bersama alam. Ah, pokoknya, intinya, Novel ini RECOMMENDED AND MUST READ!!!

Penulis : Tere-Liye
Penerbit : Republika
Halaman : 345 halaman
Selengkapnya...

Selasa, 17 Agustus 2010

Pesan dari Sambu


Meski angan-angan itu hadir setiap saat, faktanya sampai detik ini aku masih tetap di sini. berebut udara di Bangsal 30, mengasuh lima adik sepanjang musim dan membaui air kencing mereka. Fakta kedua, aku sangat menyayangi adik-adik walau di depan teman-teman aku selalu menunjukkan muka masam seolah mereka tali tambang yang menjerat leherku kuat-kuat.

Sungguh aku sedih memikirkan masa depanku sekaligus ngeri membayangkan hidupku akan selalu dikelilingi adik-adik. Bagaimana jika ternyata aku ditakdirkan memiliki adik sepuluh atau lima belas? Aku dihadapkan pada dilemma. Aku tidak mau “ke bawah tak jadi akar ke atas tak jadi daun”.

Pesan dari Sambu adalah sebuah cerita tentang Mimi, yang memiliki banyak adik. Mimi sendiri sebenarrnya anak ketiga, tetapi dialah satu-satunya yang mengasuh adik demi adik yang terus dilahirkan ibunya. Sikap ibunya yang pilih kasih lama kelamaan membuat Mimi jenuh dengan tugas hariannya. Mimi pun merasa bahwa mungkin satu-satunya jalan menuju kebebasan adalah dengan menikah. Namun alih-alih ingin mendapatkan pemuda pujaan hatinya, anak pulau Nongsa, mak dan neneknya malah bersikeras menjodohkannya dengan seorang tentara yang selalu ia panggil Oom. Setelah pertunangannya dilaksanakan, Mimi tidak diperbolehkan sekolah lagi, cita-cita bapaknya yang ingin menyekolahkannya menjadi seorang perawat, pupus sudah, karena bapaknya sudah tidak dapat menolak keputusan istrinya yang keras kepala.

Sebuah cerita yang cukup unik, tersirat dari synopsis di cover belakang novel Pesan dari Sambu. Ide cerita yang sangat jarang. Aku membayangkan akan menemukan banyak dialog mengunakan bahasa melayu yang beraksen huruf ‘e’ disetiap ujung katanya, namun sayang, itu jarang aku temukan. Sehingga kesan melayunya kurang dapat. Karena Sambu itu hanya sejengkal dari kota ku, orang tua ku juga dilahirkan disebuah pulau terpencil sama seperti sambu, tak terlihat di peta. Jadi aku tahu betul bahasa melayu yang beraksen huruf ‘e’ dibelakang katanya, menjadi pelekat bahasa Melayu Kepulauan Riau.


Selain itu, yang membuat Novel ini kurang dapat aku nikmati adalah karena ada beberapa penjelasan yang di jelaskan berulang-ulang. Seperti pada bab 6, “Oleh teman-teman dan guru di sekolah aku dipanggil Tarti, sedangkan keluarga, kerabat, dan tetangga memanggilku Mimi.” Ini sudah dijelaskan pada halaman 35. Sedangkan pada bab ke-4 “Bangsal 30” pengemasannya kurang bagus, dari awal sampai akhir aku tidak bisa menikmati ceritanya. Penulis kurang mampu menggambarkan setting dari tempat tinggal mereka, sehingga aku tidak terbawa suasana yang digambarkan.

Meskipun demikian, saya menikmati novel yang cukup eksotik ini, seperti membaca kehidupan. Karena memang novel ini diangkat dari kisah nyata. Banyak kisah sejarah yang saya temukan didalamnya.

Judul : Pesan dari Sambu
Penulis : Tasmi P.S
Penerbit : Hikmah
Halaman : 349 halaman
Harga : Rp. 49.000,-
Selengkapnya...

Cendol Istimewa


Baru tadi malam bilang sama mama minta bikini cendol, eh udah terhidang aja tu cendol untuk bukaan hari ini. Di rumahku, entah sejak kapan cendol buatan mama hanya keluar setahun sekali saja, bulan puasa. Seingatku tak pernah aku mencicipi cendol buatan beliau tidak di bulan puasa. Jadi jelas-jelas ini kuliner istimewa. Hanya muncul setahun sekali saja, THR kaleee setahun sekali.

Nah ini aku bela-belain minta resep istimewa itu. Cendol doing kok di kata istemewa? Di pasar-pasar juga banyak kali. gimana gak istimewa coba, wong keluarnya Cuma setaon sekali doank! Emang sih cendol banyak di pasar-pasar. Tapi ini beda, namanya juga yang bikin adala orang istimewa, keluarnya juga cuma di hari istimewa.

Cekidot

Bahan cendol :
  • Tepung beras
  • Air
  • Kapur sirih secukupnya
  • Garam secukupnya
  • Pasta pandan secukupnya juga. Pakai insting aja kata mama.

Takarannya berapa tu? Aye juga binggung, katanya sih pake ilmu kira-kira heheheee…. Mama biasa bikin cendol takarannya gelas minum. Jadi kalau tepung berasnya satu gelas, airnya dua gelas. (untuk porsi 10 gelas)

Cara membuat :
  • Campur tepung beras, air, garam, pasta pandan.
  • Masak sambil diaduk cepat hingga matang. Angkat
  • Siapkan cetakan dawet, taruh di atas baskom berisi air es. Tuangkan adonan panas ke atas cetakan, gosok-gosok hingga butiran cendol jatuh ke baskom.
  • Tiriskan.

Kuah Santan :
  • Air santan yang sudah di masak terlebih dahulu, bisa dicampur dengan daun pandan. (1 butir kelapa parut)
  • Garam secukupnya
  • Air gula merah:
  • 2 batang gula merah yang dihancurkan. Lalu rebus gula merah, gula pasir dan air hingga mengental. Angkat, saring, dan dinginkan

Bahan pelengkap yang justru wajib :
  • Jagung kalengan
  • Cincau (beli aja di pasar, lalu potong dadu)
  • Agar-agar yang di iris-iris tipis (yang ini cincai la, gak ada juga gak pa2)

Cara penyajian :
Ini bagian yang paling aku suka. Tahap akhir sebelum masuk mulut. Gampang saja, tidak perlu belajar, kalau tau cara tuang teh, pandai la tu menyajikan cendol. Tinggal comot jagung, cincau, irisan agar-agar, cendol (tak perlu berurutan, suka hati saja). Lalu campurkan dengan air santan dan air gula. Hidangkan dingin, Wajib.
Selengkapnya...

Senin, 16 Agustus 2010

"NIAGARA" SEMAKIN DEKAT

Cerpen ini saya tulis untuk diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh Sang cerpenis dan VIXXIO
dan buku yang saya inginka adalah LARASATI karya Pramoedya Ananta Toer


Aku tidak mengerti mengapa akhirnya mereka membuat keputusan ekstrim dengan mencampakan aku ke Asrama penyandang cacat itu. Apa mereka sudah seperti orang-orang yang selalu memandangku dari ujung ke ujung dengan ujung matanya? Meremehkan.
Setelah delapan jam perjalanan menggunakan kapal feri lalu disambung menaiki mini bus, aku sampai di tempat tujuan, Kabupaten Kampar.

“Sebentar lagi kita akan sampai, Ra. Semoga kau senang di tempat barumu ini.” Ucap kakakku, Lita. Ya, setelah kepergian orang tuaku, dialah yang menjadi kakak sekaligus kepala keluarga di rumah. Semua tunduk kepadanya, termasuk usul memasukkan aku ke asrama ini juga tercetus dari mulutnya. Tak ada yang mempertahankan atau sekedar memberi opsi tidak setuju. Semenjak itu aku membuat kesimpulan, mereka pun tak menginginkan aku yang cacat ini.

Pintu gerbang yang besar menyambut kedatanganku. Tempat ini indah, sekilas kekesalanku menguap. Aku lupa bahwa beberapa saat yang lalu aku sangat tidak menginginkan berada di tempat ini.

“Assalammualaikum.” Sapa seorang wanita cantik berjilbab putih.
“Walaikumsalam. Kami dari Batam dan ini adik saya Ira yang ingin tinggal dan bersekolah di sini.”
“Hey! Aku tidak ingin, tapi kalian yang menginginkan aku di sini.” Tentu saja itu tidak nyata aku ucapkan. Hanya teriakan di dalam hati saja. Lalu memandang kakaku kesal.
“Saya Aisyah, pembina di asrama ini. Mari saya antar ke dalam sembari melihat tempat tinggal barumu Ira”

Dengan sangat ramah, dia mengajak aku dan kak Lita berkeliling sebentar. Menunjukkan sekolah baruku, asrama, lapangan olah raga, aula, mesjid, perpustakaan, ruang teater, ruang melukis, bahkan dapur khusus siswa praktek. Aku terkejut takjub, semua tempat dan sarana penuh sesak oleh siswa dengan segala aktifitasnya. Dan mereka sama sepertiku, cacat.

*
Aku marah ketika kak Lita berpamitan pulang. Dia benar-benar meninggalkanku sendiri di sini. Sedih menyergapku, lalu bergantian dengan amarah.

Tiga hari sudah aku di sini, teman pertamaku adalah Rara, dia berasal dari Dumai. Kecacatan fisiknya adalah tidak mempunyai tangan, sementara aku lumpuh. Aku dan Rara menjadi teman dekat, apa yang tidak bisa dilakukan Rara, aku akan membantu, begitu juga sebaliknya. Kami menjadi teman simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Kami berdua satu kamar. Tentu saja tidak hanya berdua, bergabung dengan tujuh belas orang lainnya.

*
Hari ini adalah hari pertama sekolahku di bangku SMA. Dan baru kali ini aku merasa tidak dipandang aneh. Jam pertama diisi oleh seorang guru muda bernama Ibu Sarah, dia adalah wali kelasku selama satu tahun ini. Perkenalan pagi ini sangat mengesankan. Penuh semangat dan motivasi. Seketika aku menjadi manusia sempurna disekeliling oang-orang yang siap melahirkan kesempurnaan. Seketika rasa minderku hilang, berulang kali aku mengacungkan telunjuk sekedar untuk bertanya atau menjawab pertanyaan. Begitu juga dengan yang lainnya.

“Belum tentu orang yang memiliki kekurangan tidak bisa melakukan apa-apa. Sekarang tulis apapun yang ingin kalian capai sebanyak-banyaknya. Tembus tembok penghalang untuk meraih mimpi. Lakukan. SEKARANG!” Tiba-tiba suara bu Sarah mengelegar penuh semangat. Lima detik pertama kami hanya tercengang diam. Lalu perlahan-lahan mulai mencerna perintah bu Sarah.

”Jangan ragu anak-anak, bermimpilah, berusaha untuk mewujudkannya, setelah itu bertawakal. Tuhan tidak melarang orang-orang seperti kalian untuk menjadi seperti Sir Isaac Newton, seorang yang banyak memberikan kontribusi dibidang fisika dan mekanika. Ludwig van Beethoven, seorang komposer yang memiliki kontribusi di dunia musik yang sangat monumental. Mereka adalah orang-orang jenius yang memiliki latar belakang yang unik. Newton mengidap penyakit Skizofrenia, orang yang mengalami gangguan emosi, pikiran dan perilaku. Sedankan Ludwig, ia justru mengubah karya-karya masterpeace-nya saat ia benar-benar tuli akibat pukulan dari ayahnya.”

Tanganku semakin lincah menulis segala mimpi yang berterbangan di kepalaku. Aku menangkapnya dan menulisnya dalam tulisan nyata. Setidaknya mimpi-mimpi itu telah nyata aku tuangkan dalam tulisan yang nyata. Urusan bagaimana mencapainya, entahlah, aku sendiripun tidak tahu. Apa mungkin orang sepertiku bisa menjadi koki terkenal? sedangkan memasak saja aku tidak pernah, kecuali mie instan tentunya. Mendapatkan beasiswa sekolah di Eropa, menguasai tiga bahasa dunia, berlibur ke Niagara, air terjun terpopuler di dunia, mendirikan rumah tumpang untuk orang-orang cacat sepertiku. Lalu aku berhenti menulis, seketika merasa tulisanku ini seperti mimpi yang konyol.

”Bu, benarkah ada kakak tingkat kita di sini yang tuna netra namun mampu menghafal Al-Quran?” Tiba-tiba Sarah bertanya.
”Benar. Dia tuna netra, namun mampu menghafal Al-Quran hingga khatam. Orang normal, untuk membacanya saja masih banyak yang belum bisa.”

Bagaikan seperti diberi aba-aba, semua kepala kembali tertunduk dan berkutat dengan angan yang telah melompat keluar dari zonanya. Begitupun aku. Jawaban bu Sarah bagaikan obat bagi orang yang tidak berani bermimpi sekalipun. Aku seperti dibawa keluar dari penjara pesimis dan tidak percaya diri yang selama ini mengukungku.

*
Sudah delapan bulan aku disini. Aku mulai merajut mimpi-mimpiku yang pernah kutulis dulu. Aku mengambil ektrakulikuler memasak yang difasilitasi lengkap oleh yayasan. Disini setiap bulan diadakan lomba dari memasak hingga menyajikannya. Dibulan pertama, aku berhasil membuat tim juri memuntahkan masakanku. Dibulan kedua, aku selangkah lebih maju. Tim juri tidak memuntahkan masakanku, namun matanya yang menyipit ketika mencicipinya, seolah mengatakan ”Rasa masakanmu lebih buruk dari ikan bakar yang hangus terbakar.” Dibulan ketiga tim juri tidak lagi memuntakhan masakanku atau menyipit ketika mencicipinya. Mereka bertindak lebih ektrim, terang-terangan mengatakan bahwa bakatku tidak disini, dan menyuruhku untuk mencari ekskul lain yang lebih sesuai. Ini membuatku sedikit tergoncang. Mimpi yang sudah terlanjur tercatat itu seolah-olah benar-benar membuatku konyol. Aku mengalami patah semangat lagi. lima bulan lamanya aku tak pernah lagi meramaikan lomba koki-kokian itu. Aku seperti anak baru yang menginjakkan kaki di asrama ini. Lesu dan tanpa aktifitas. Hari-hariku habis dengan meratapi nasib. Sampai akhirnya Rara menegurku. Memberikan secarik kertas, yang aku baca sekilas isinya sepeti sebuah resep.

”Apa ini?” Aku bertanya tanpa berpaling kearahnya
”Kau harus coba resep itu, bulan depan jurinya adalah seorang koki dari Cina. Itu adalah resep masakan handalannya. Kau harus coba. Entah mengapa kali ini aku yakin kau mampu meraciknya menjadi makanan yang pas untuk lidah orang Sumatera. Jadikan mirip tapi tak sama. Aku siap membantumu.” Rara mencoba memberi semangat. Dan seperti di sihir, aku tersenyum untuk ide cemerlangnya tersebut, lupa akan semangat yang sudah patah berkeping-keping beberapa detik yang lalu.

*
Aku duduk dengan tengang didampingi Rara. Hari itu datang juga, dan sekarang masakanku sudah tersaji dengan apiknya menunggu giliran dicicipi koki dari Cina itu. Aku merasa sudah melakukan sesuatu yang paling baik. Dalam sejarah hidupku, ini lah satu-satunya hal yang paling maksimal yang pernah aku lakukan. Sekarang aku tinggal bertawakal memohon hasil yang baik juga.

Koki itu telah berdiri tepat di depan mejaku yang terhidang masakan Nasi Bambu Hunan, lengkap dengan bambu sebagai pengganti piring. Matanya yang sipit semakin sipit melihat hidangan dimejaku. Ini membuatku terpental karena pernah merasa ditatap seperti itu.

Tanpa ba bi bu, ia mencicipi masakanku. Mengunyahnya perlahan lalu menelannya. Aku sampai ikut menelan ludah ketika koki itu menelan makanannya. Tak puas disuapan pertama, ia mencicipinya lagi hingga tiga kali. Suasana hatiku semakin tak menentu. Apakah makananku hambar sehingga ia harus berulang kali untuk memastikan rasa dari masakanku itu? Entahlah, yang pasti aku sudah tertunduk tak berdaya.

Koki itu akhirnya mengatakan sesuatu padaku, tentunya dengan bahasanya. Ingatkah kau akan impianku untuk bisa menguasai tiga bahasa? Ya, disekolahku menyediakan juga pendidikan ini, dan salah satu bahasa yang aku ambil adalah bahasa mandarin. Akhirnya terjadi obrolan yang panjang antara aku dan koki itu yang ternyanya bernama Jian. Dia tak segan-segan memuji masakanku, aku sampai dibuat tersipu malu karena senang. Tak diduga ternyata semua orang menatapku, namun kali ini bukan dengan ujung matanya. Mereka menatapku dengan sorotan takjub. Tak terasa meleleh juga air mataku. Aku merasa hidupku perlahan-lahan penuh arti dan berarti setelah sekian lama kuselimuti dengan kesia-siaan.

*
Seperti biasanya bu Sarah memasuki kelas dengan menaburkan sejuta semangat terlebih dahulu. Kalimat penyemangat hari ini yang ditulis di papan tulis adalah:
Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil (Mario Teguh)
”Hari ini ibu punya berita gembira buat kalian semua dan khususnya buat salah seorang teman kita.” Bu Sarah mengancungkan selembar amplop. Perlahan-lahan ia menuju meja Ani, tidak, ia melewatinya. Mungkin kemeja Rara, tidak juga, ia melewatinya, dan sekarang berhenti tepat disebelah mejaku dan meletakkan amplop berita gembira itu diatasnya.

Perlahan aku buka isi amplop itu. Sama sekali tak tergambarkan olehku kebahagiaan apa yang dimaksud bu Sarah. Seketika aku megernyitkan dahi, masih tak mengerti akan kertas yang sudah aku baca hingga dua kali. Tidak, aku bukan tidak mengerti, lebih tepatnya aku tidak percaya. Ini adalah sebuah voucher untuk mengikuti lomba memasak tingkat Nasional di Jakarta. Dan jika aku berhasil masuk babak selanjutnya, aku akan mendapatkan tiket bersaing di Cina. Jika lolos, aku akan mengikuti tour ke New York. Itu artinya Niagara sudah semakin dekat.

Anganku sudah melambung terlalu jauh, padahal lomba di Jakarta itu masih tiga bulan lagi, namun anganku sudah sampai di New York, Niagara. Aku sama sekali tidak merasa konyol, motivasi dipapan tulis lekat kubawa bersama hati yang sudah membucah bahagia. Aku merasa semakin dekat dengan impian-impianku yang pernah kutulis tanpa kutahu bagaimana cara mengapainya. Lalu aku bersyukur, berterimakasih kepada kakak-kakakku yang telah membuat keputusan ekstrim itu justru menjadi indah akhirnya. Mereka tidak pernah meninggalkanku, justru akulah yang meninggalkan mereka.

Batam, 13 Agustus 2010
Selengkapnya...

Sabtu, 14 Agustus 2010

7 MASJID TERMEGAH DI DUNIA

MASJID BIRU : TURKI
MASJID JAMI : INDIA

MASJID KRISTAL : MALAYSIA

MASJID FAISAL : ISLAMABAD

MASJID DUBAI


MASJID BADSHAHI : PAKISTAN


MASJID PUTRA JAYA : MALAYSIA

Mendapat kesempatan berkunjung ke Masjid Putra Jaya, Malaysia



”Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(QS. At-Taubah, 9:18)

Subhanallah... Islam itu indah dan mencintai keindahan.
Alhamdulilah saya pernah diberi kesempatan mengunjungi salah satu Masjid terindah di dunia ini, Putra Jaya Malaysia pada tahun 2007 silam. berlatar danau Putrajaya dengan keindahan pemandangan alami. Sepintas masjid ini seperti masjid terapung yang berdiri di atas danau.
Selengkapnya...

Minggu, 08 Agustus 2010

Trip to Singapore


06:15
Dari rumah ke Harbor bay. Janjian with viga dan Karina jam 06.45 wib. Sampai di TKP jam 06:35, kepagian, mereka belum pada datang.

07:10
Beli tiket. Rencana mau naik kapal pertama jam 07:30
APA? Kapal penuh. Hiks, undur keberangkatan . Next trip feri jam 8:30.
Tiket PP Rp 188.000,-
Sambil nunggu, sarapan dulu di Coffee town. Makanan favorit : Ketan hitam, biasanya enak, tapi kali ini enggak, rasa santannya rada acem gimana gitu!!! Akhirnya cuma minum teh susu sama potongan roti.

08:30 – 09:15
Harbour bay Batam – Harbour front Singapore
Langsung cek in pulang di lantai 3. Lagi ramai, tadi aja kapal full. Owh ternyata Singapore lagi long week (Hari kemerdekaannya tgl 9), jadi takut gak kebagian kapal. Ambil last fery jam 8:45.
Bayar tax 21 dollar.

Baru deh jalan-jalan, gak inget liat jam lagi.
Tujuan pertama sebenarnya Merlion. Ini requesan khusus dari aku. Pernah beberapa kali ke Singapore tapi gak pernah nyampe ke icon-nya Singapore ini. Baru kali ini ngidam pengen liat tu patung mancur. Kalau requesan temanku Karina, dia mau ke bugis street, china town, Robertson walk n Clark Quay (tmpt ice cream magic). Wkwkwkkw… dikira nginep apa? orang perjalanan kilat gini.

Back to topick “Merlion”. Dari Harbour front naik MRT turun di City Hall. Kirain langsung tujuan ke Merlion, ternyata mampir dulu di Charles & Keith, temanku satu lagi (Viga) langsung ngeborong disitu. Satu jaman baru keluar dengan tiga kantong bawaan. Wih, ternyata titipan semua, Mamanya, sepupunya, waknya, dll deh.

Back to topick “Merlion” again. Beneran sekarang mau ke Merlion, tapi pakai nyasar-nyasar dulu. sampai kaki gempor dari gedung satu kegedung lainnya yang memiliki koneksi bawah tanah. Sebenarnya waktu di Esplanded (gedung mirip durian itu), harusnya udah dekat. Dari titik awal berdiri di situ harusnya belok kanan, tapi kita hajar belok kiri sampai ke Suntec city mall. Kurang lebih dua jam muter-muter, untung aja gak panas (tetep, orang Indonesia pakai “UNTUNG”). Pada saat di titik keputus asaan, akhirnya naik taxi, demi memperjuangkan keinginanku itu. Ibarat orang ngidem, kasian kalau gak diturutin, ntar nces nces. Hehehehehee…
Naik taxi bayar 4 dollar. Ih, rutenya dekat banget ternyata kalau kita gak pakai nyasar dari gedung Esplanded itu. Hiks, melayang deh 4 dollar. Bukan 4 dollarnya yang jadi masalah, masalahnya next trip masih panjang. Coba baca lagi request teman aku Karina di atas.
Nyampe di Merlion, foto-foto. Udah. Udah gitu doank? Iya, gitu doank. Disana lagi ramai banget, gak betah juga lama-lama, yang penting niat nya kesampean. Kan niat awalnya aku pribadi emang mau kesana.

Iya deh sedikit tentang Merlion. Terletak bersebelahan dengan One Fullerton, sebuah taman seluas 2.500 meter persegi. Area ini juga memiliki sebuah tanjung dengan teras tempat duduk dan sebuah dek untuk menonton yang sanggup menahan sampai 300 orang. Dek ini memberi panorama sang Merlion yang terbaik bagi para fotografer, dengan latar belakang cakrawala kota dan Marina Bay yang indah, termasuk gedung-gedung landmark seperti The Fullerton Singapore dan Esplanade – Theatres on the Bay. Fotografer amatir aku rasa paling banyak, asal bisa pegang kamera saja, pasti gak nahan untuk tidak menjepret-jepret. Jadi model atau fotogrfernya, kedua-duanya menyenangkan.

Dari Merlion, naik MRT di Raffles place – Bugis junction. Perjalanan menuju ke Raffles place sangat menyenangkan. Masih dengan latar gedung-gedung pencakar langit dan sungai yang menemani. Mampir sejenak di jajanan ice cream pinggir jalan, awalnya memincingkan mata (masak makan ice ini?) setelah dicoba, rasanya enak, gigitan ice nya itu loh, lembut banget. harganya 1 dollar.

Di bugis ini, tempat belanja. Katanya lebih murah, iya sih, kalau dibanding di mall-mall. Tapi barangnya kok gak ada yang ngena dihati ya. Aku cuma belanja aksesoris gitu. Trus sempat juga beli air kelapa yang batoknya cuma segede kepalan tangan, unik, jadi pengen nyoba. Rasanya sih air kelapa, tapi kok lebih seger ya. Oh mungkin karena terlalu dahaga.

Di Bugis mampir lagi ke Charles & Keith, Temanku viga belanja lagi di situ. Oh ya, hampir lupa. Aku juga beli ice cream rasa mint coklat. Kalau karina rasa lemon. Saling cicip-cicip deh. Kali ini harganya rada mahal dikit. 3 dollar lebih. Tapi rasa ice pinggir jalan tadi lebih enak. Hahahahaa… aku lebih tertarik membahas ice cream dari pada Charles & Keits.

Dari Bugis sebenarnya mau mampir ke Orchard, tempat shopping lagi, tapi udah gak ada waktu. Abis kelamaan nyasar dan di bugisnya sih. Akhirnya mutusin balik ke Harbour front, mungkin akan belanja di vivo saja, tapi ternyata juga tidak sempat. Akhirnya beli oleh-oleh, coklat donk tentunya. Sekalian aku borong yogurt 4 ltr buat orang rumah. Hohohohohooo.. bawa na nyiksa banget. berat.

Eh tau gak siy, masih ada waktu nih ceritanya. Mampir lagi di Charles & Keith. Bisa-bisanya dalam satu hari ini mampir ke toko yang sama di tiga tempat yang berbeda, pertama di City Hall, lalu di Bugis, sekarang di Harbour front. Dan ditiga tempat tersebut, tak pernah dilewati temanku Viga untuk berbelanja. Aku sampai geleng-geleng kepala, semakin yakin kalau temanku itu sebelum berangkat lupa baca doa, sampai kesetanan gitu. Heheheheee… Di tempat yang ketiga ini, akhirnya aku tergiur juga untuk sedikit jajan. Sebuah dompet lucu masuk dalam tas belanjaan. Mungkin lain kesempatan aku akan membuat postingan tentang Charles & Keith yang katanya sangat digandrungi oleh para kaum hawa dan terlihat seperti high class brand sewaktu dipakai.

Akhirnya pulang, nyampe Batam jam sepuluh kurang. Kaki udah gemeteran sangking pegalnya. OK, sampai ketemu diperjalanan selanjutnya. Cup Muuuuuuaaahhhh….

Selengkapnya...

Jumat, 06 Agustus 2010

SEKEDAR CERITA TUMPUK-TUMPUK

Aaaaaaaaaaa.... pengen teriak. kerjaan belum kelar. padahal besok udah weekend, tapi masih ada laporan tiga hari yang tersentuh pun tidak. Niatnya hari ini akan di basmi habis-habisan hingga keakar-akar, tapi tetap saja tidak kelar, ada saja penghambat. pertama, jaringan yang putus nyambung putus nyambung udah kayak BBB saja. kedua, karena jaringan yang putus-putus tadi bikin konsentrasi buyar dan beralih kehal-jal yang tidak penting lainnya. Hal tidak penting itu, tidak penting juga untuk saya jabarkan.

Jam dua-an baru mulai konsentrasi ke kerjaan lagi, itu berarti waktu saya tinggal dua jam untuk mengerjakan semuanya jika ingin pulang tang-go. tapi tidak mungkin, paling tidak kerjaan saya baru kelar jam enam-an. Tak apalah, demi weekend tanpa membawa beban. Owh ya, weekend ini ada rencana menyebrang ke Singapur. menyenangkan bukan? bersama sahabat-sahabat yang Te-O-Pe banget. ini pengalaman pertama pergi ke sana bareng mereka. pasti seru banget. sudah lama juga passport saya tidak kena stampel "SIngapore Immigration. Cerita perjalanannya pasti akan saya posting sesegera mungkin.

Sekarang kembali ke kerjaan saya yang belum kelar itu. Apa ada ide? Ya kerjakan sampai kelar. Tadi niatnya begitu, tapi sekarang saya sudah stay di rumah. gara-gara kakak yang minta ke-JNE (jam lima tutup), karena ada paket. ternyata paket itu lebih mengiurkan ketimbang menunggu loading yang tidak done done (hahahhahaa.. bahasa rekan-rekan kerja terbawa-bawa). Sampai di-JNE, paket itu tidak ada. Penonton kecewa, sudahlah paket gak dapat, kerjaan pun tidak kelar. Itu artinya sudah jatuh tertimpa tangga, untung tak dapat riraih malang tak dapat ditolak. Tak nyambung .com alias ngaurrrr...
Untuk sekian kalinya mari kembali kekerjaan saya.

Emang ngapain aja kerjaan harian sampai di tumpuk-tumpuk berhari-hari?
Weits, jangan pikir saya makan gaji buta. begini seharahnya, setiap akhir dan awal bulan, kerjaan saya pasti menumpuk. tidak pernah tidak. Ya diangsur, donk! PASTI, kalau tidak ya kalang kabut kayak kebakaran jenggot. Nah kebetulan tanggal 1 bulan ini jatuhnya hari minggu. mau tidak mau weekend tetap ngantor. Hari senin harusnya kerjaan tinggal dikit donk! kan udah diangsur dihari sabtu dan minggu. Harusnya gitu, tapi ada problem yang membuat saya berkutat lama distu titik. Menguras tenaga, akhirnya belum setengah hari udah lelah. Kerjaan hari itu ditunda besok. Karena tunda-tunda akhirnya numpuk. Ya kayak begini jadinya. besoknya kasir saya cuti dua hari, jadi rangkap job. biasa-biasanya sih terhendel, mungkin kali ini luar biasa jadi tidak terhendel dengan baik. Ada saja hal yang harus didahului ketimbang mengerjakan inputan laporan saya yang tertinggal itu.

Wah, saya sudah curhat banyak tentang kerjaan. Padahal saya tidak pernah tertarik untuk menulis dua hal. Kerjaan dan Cinta.
Ya semoga liburan bersama anak-anak gazebo besok memberi spirit baru dihari senin. Siap tempur lagi membasmi yang tertumpuk-tumpuk itu hingga keakar-akarnya tanpa ampun. Hope everything will be alright ^_ fighting!!
Selengkapnya...

Kamis, 05 Agustus 2010

MENYIMPAN LINK TEMAN DI POSTINGAN KHUSUS

Tulisan ini dibuat karena pertanyaan saya mengenai cara menaruh link teman dalam postingan khusus telah dijawab oleh seorang rekan blogger *Miss Gaptek. Dan, begitu klik widget yang berisi gambar/tulisan (misal) : LINK SOBAT atau LINK TEMAN-TEMAN, maka langsung menuju ke postingan khusus yang berisi link para sobat. oh ya, tulisan ini 99% saya copy paste dan telah saya praktekkan. Penjelasannya runtun dan mudah dimengrti, jadi tidak pake Error2.

Oke, begini caranya....

  1. buat dulu postingan yg isinya adalah list link teman-teman kamu.
  2. buat gambar yang kamu sukai berikut tulisan LINK SOBAT atau LINK TEMAN-TEMAN, atau apalah, sesuai selera, yang kamu banget pokoknya.
  3. simpan gambar kamu itu di komputermu.
  4. masuk ke rancangan atau tata letak.
  5. klik add gadget
  6. pilih yang ada tulisan GAMBAR.
  7. Nanti akan muncul kotak yang ada tulisan JUDUL/KETERANGAN GAMBAR. isi salah satunya saja.
  8. Isi kotak yang ada tulisan HUBUNGAN dengan : Url postingan yang isinya link-link teman kamu. lalu upload gambar dari komputermu.
  9. SAVE

Tulisan ini cocok sekali buat pemula yang ingin ngeblog, seperti saya. tidak perlu malu, biar deh dikata gaptek, yang penting jadi tau. xixixixixiixixii..... Selengkapnya...

Rabu, 04 Agustus 2010

LINK

Mari berteman.

Ini link kawan-kawanku. masih sedikit sih, namanya juga anak baru. baru belajar nge-bolg, baru belajar nulis.
Bismilah, niat baik semoga inputan dari nge-blog ini jg baik ^_^


Yang mau tukeran link, bisa comment disini ^_
pasti aku kunjung balik





Selengkapnya...

Senin, 02 Agustus 2010

Membuat Link di Postingan

Aku yang notabene baru belajar ngeblog, ngiler bangat liat blog2 para pendahulu yg lucu-lucu dan unik. Lalu timbul berbagai pertanyaan, ini kok bisa gini ya, buatnya bagaimana? Nah, iseng-iseng nyoba juga ah. Hal pertama yang bikin aku melirik adalah bagaimana cara mencantumkan link di postingan. Jujur ini gak sengaja tertarik dan nemuinnya di sini “Fanny”. Kata yang punya betapa bodohnya saya, betapa gapteknya diriku ini.....Sungguh amat memalukan. Aku jadi punya kewajiban dan beban tersendiri untuk bisa setelah baca itu tulisan, karena kalau tidak, aku akan terjebak dalam kubang kebodohan. Hahahahhaa… owh Jijay.

Mulai belajar :

Pertama, blok dulu nama orang/nama blog yang akan ditaruh linknya, lalu klik gambar hijau yang ada tulisan : MASUKKAN TAUTAN. Dan, link yang udah kita copas itu taruh di kotak yang muncul setelah mengklik gambar hijau itu.

Owwhhhh… hanya sekali nyoba, gak pake ulang-ulang. SUKSES. Betapa senangnya (Loncat-loncat kegirangan) sueerrrr gak sulit, tapi girangnya kayak habis mecahin masalah yg ribet mumeeetttttttt.
Selengkapnya...